Mahasiswa, Apa Yang merasukimu?


Organisasi kemahasiswaan akhir-akhir ini mulai mengherankan. Lupa pada tugas dan fungsi mahasiswa. Kendatipun demikian mereka begitu bahagia dengan keorganisasiannya (buat menuhin CV katanya). Bahkan ada yang saking sibuknya menuhin CV, sampai-sampai mengikuti 3 bahkan 5 organisasi sekaligus dalam satu kepengurusan. Tujuannya memang bagus, daripada rebahan mending berorganisasi bukan? Akan tetapi pada tahap pelaksanannya, seperti jauh panggang daripada api. Tujuan yang tadi itu berubah drastis sehingga siapapun yang melihat akan merasa miris. Coba anda bisa cek setiap kegiatan seluruh organisasi kemahasiswaan bqik intra maupun ekstra yang pernah ada, apakah antusiasme dari setiap kader atau anggotanya cukup baik atau malah mengecewakan?

Hal ini didampak dari berbagai macam hal. Terdapat setidaknya 2 faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Pertama, terjadinya tuntutan yang terlalu tinggi dari organisasinya. Hal ini menjadi beban bagi setiap kader atau anggota yang ada. Mengingat, mereka baru saja memasuki dunia kampus yang akademis dan teoritis. Kedua, benturan antara kepentingan pribadi dan organisasi. Jika memang yang mengahdapi hal tersebut memang seorang yang organisatoris, mungkin jawabannya jelas bawha dia akan mementingkan organisasinya. Lalu bagaimana jika bukan? Entahlah coba saja amati sendiri.

Mahasiswa tak lagi mampu melihat mana isi dan mana bungkus. Mahasiswa terlalu sibuk pada masalah yang tidak substantif sama sekali. Ada banyak hal yang bisa menjadi contoh untuk ini, mulai dari mempermasalahkan dresscode ketika hendak melaksanakan kegiatan, waktu pelaksanaan, juga bahkan konsep acaranya hendak seperti apa dipertanyakan begitu mendetil dan meluas. Mungkin kata Event organizer lebih tepat untuk ini. Mereka lupa mendiskusikan apa perlunya acara tersebut, apa sasaran dan targertnya, juga apa yang diperlukan oleh peserta.

Belum lagi sekarang ini merupakan era percepatan segala macam hal, mulai dari teknologi sampai percepatan pelayanan. Harusnya seorang organisatoris paham betul untuk membaca situasi ini. Harusnya mereka sudah menyiapkan rumusnya guna menjawab persoalan ini. Sebab yang benar saja, kemajuan informasi sudah luar biasa cepatnya. Namun ketika ada agenda apa saja selalu ngaret waktunya.
Keintelektualannya pun dipertanyakan akhir-akhir ini. Bukan sia-sia, tapi terkadang agak membodohi diri dengan cara menjiplak. Ada banyak hal untuk diceritakan masalah ini. Mahasiswa harusnya menjadi pemikir yang hebat. Bukan malah menduplikasi, apalagi menjiplak karya orang lain. Tidakkah memalukan jika menulis karya ilmiah saja masih menjiplak? Jika masalah jiplak menjiplak saja, siswa SMP pun dengan senang hati akan melakukannya bukan? 

Belum lagi kita lihat, bahwa mahasiswa sekarang seolah anti pada kegiatan terjun ke sawah, ke ladang dan lainnya. Mungkin ini dipengaruhi oleh kultur, dan mungkin juga oleh mahasiswanya sendiri yang memang merasa bahwa itu bukan tugas dan urusan saya. Harusnya mahasiswa itu tidak demikian, mahasiswa menurut hemat penulis adalah orang terdidik dan terpelajar yang siap terjun ke masyarakat guna menyalurkan semua ilmunya dan tak pernah pamrih memilih jenis kegiatan apapun itu. Tan Malaka pernah berkata bahwa jika pendidikan membuat pelajar enggan terjun ke sawah dan sebagainya, lebih baik pendidikan itu ditiadakan sama sekali.

Komentar