Inflasi dan Stabilitas Moneter


A. Pengertian Inflasi
Pada tahun 1965 sebuah artikel dalam Encyclopedia of Social Sciences memberikan definisi inflasi sepeti ahli ekonomi mendefinisikannya, yaitu kenaikan tingkat harga. Kemudia, pada permulaan 1970-an seuatu perbedaan yang baru dilakukan oleh banyak ahli ekonomi: suatu kenaikan tingkat harga yang tidak berlangsung untuk seterusmya disebut suatu kenaikan tingkat harga; Istilah inflasi dicadangkan untuk kenaikan tingkat harga yang berlangsung terus menerus.

Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang selalu menarik untuk dibahas terutama berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap makroekonomi agregat: pertumbuhan ekonomi, keseimbangan eksternal, daya saing, tingkat bunga dan bahkan distribusi pendapatan. Inflasi juga berperan dalam mempengaruhi mobilisasi dana lewat lembaga keuangan formal.

Inflasi di artikan sebagai kenaikan harga umum secara terus menerus dari suatu perekonomian. Sedangkan menurut Rahardja dan Manurung mengatakan bahwa, inflasi adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus. Sedangkan menurut Sukirno, inflasi yaitu kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi karena permintaan bertambah lebih besar dibandingkan dengan penawaran barang di pasar. Dengan kata lain, terlalu banyak uang yang memburu barang yang terlalu sedikit. Inflasi biasanya menunjuk pada harga-harga konsumen, tapi bisa juga menggunakan harga-harga lain (harga perdagangan besar, upah, harga, aset, dan sebagainya). Tingkat harga yang melambung sampai 100% atau lebih dalam setahun (hiperinflasi), menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap mata uang, sehingga masyarakat cenderung menyimpan aktiva mereka dalam bentuk lain, seperti real estate atau emas, yang biasanya bertahan nilainya dimasa-masa inflasi. Sejumlah ekonomi berpendapat bahwa tingkat inflasi yang rendah merupakan hal yang baik apabila itu terjadi akibat dari inovasi. Produk-produk baru yang diperkenalkan pada harga tinggi, akan jatuh dengan cepat karena persaingan.

Inflasi mungkin terlihat alami dan tidak terhindarkan bagi orang-orang yang tumbuh selama paru abad ke-20, tetapi sebenarnya inflasi sama sekali bukan hal yang tak terhindarkan. Terdapat periode-periode panjang pada abad ke-19 di mana sebagian besar harga-harga turun, sebuah fenomena yang dinamakan inflasi. Para petani, yang memiliki akumulasi utang yang besar, menderita ketika turunnya harga produk tanaman mengurangi pedapatan mereka sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk membayar utang-utang mereka.

Pengertian inflasi lainnya menurut Sadono Sukirno adalah kenaikan harga-harga barang yang diimprot, penambahan penawaran uang yang belebihan tanpa diikuti oleh pertambahan produksi dan penawaran barang, setra terjadi kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggung jawab. Adapun penyebab lain dari inflasi antara lain uang yang beredar lebih besar daripada jumlah barang yang beredar.

B. Jenis-Jenis Inflasi
Terdapat berbagai macam jenis inflasi. Beberapa kelompok besar dari inflasi adalah:
a. Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan deficit anggaran yang berlebihan dan cara pembayarannya.
b. Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
c. Demand-pull inflation disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong kenaikan tingkat harga umum.
d. Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian ekonomi yang menyebabkan berubah. Jika inflasi terus bertahan, dan tingkat ini diantisipasi dalam bentuk kontrak finansial dan upah, kenaikan inflasi akan berlanjut.

Menurut Sukirno bahwa berdasarkan pada sumber atau penyebab kenaikan harga-harga yang berlaku, inflasi biasanya dibedakan kepada tiga bentuk, yaitu:
a. Inflasi tarik permintaan, inflasi ini biasanyaterjadi pada masa perekonomian berkembang pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa. Pengeluaran yang berlebihan ini yang akan menimbulkan inflasi.
b. Inflasi desakan biaya, inflasi ini juga terjadi pada saat perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran sangat rendah.
c. Inflasi diimpor, inflasi ini terjadi apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran di perusahaan-perusahaan. Contohnya kenaikan harga minyak.

Menurut ilmu ekonomi modern, terdapat dua jenis inflasi yang berbeda satu sama lain, yaitu inflasi karena dorongan biaya (cost-push inflation) dan inflasi karfena meningkatnya permintaan (demand-pull inflation). Dalam hal inflasi karena dorongan biaya, kenaikan upah memaksa industry untuk menaikkan harga guna menutup biaya upah dalam kontrak yang baru yang mengakibatkan adanya pola siklus upah dan harga yang lebih tinggi yang disebut spiral harga upah (wage price spiral) dalam hal inflasi karena meningkatnya permintaan, yang tinggi atas kredit merangsang pertumbuhan produk nasional bruto yang selanjutnya menarik harga lebih lanjut ke atas. Beberapa ahli ekonomi percaya bahwa inflasi karena meningkatnya permintaan dapat dikendalikan melalui kombinasi kebijakan Bank Sentran dan kebijakan Departemen Keuangan, misalnya kebijakan uang ketat oleh bank sentran dan pengendalian pengeluaran oleh Pemerintah. Inflasi karena dorongan biaya diduga dapat lebih baik dikendalikan melalui pertambahan tingkat pertumbuhan perekonomian daripada melalui kebijakan moneter ataupun fiscal. Oleh karena itu, untuk mempertahankan agar inflasi rendah, perlu diketahui faktor-faktor penyebabnya. Para ekonom memiliki banyak teori namun bukan jalan keluar yang pasti. Menurut Friedman, inflasi merupakan fenomena moneter kapan pun dan dimana pun.

Kalangan monetaris menganggap bahwa untuk menstabilkan harga-harga pertumbuhan jumlah uang beredar harus di kontrol secara hati-hati. Namun hal ini sulit diimplementasikan, karena hubungan antara ukuran-ukuran uang yang beredar yang diidentifikasi oleh kalangan monetaris dengan tingkat inflasi biasanya rusak setelah pengambilan keputusan menargetkan inflasi itu. Ekonomi aliran Keynesian yakin bahwa inflasi bisa terjadi terlepas dari pengaruh kondisi moneter. Ekonom lain lebih menitikberatkan pada faktor-faktor institusional, seperti apakah suku bunga ditentukan oleh para politisi atau oleh bank sentral yang independen dan apakah bank sentral menentukan suatu target inflasi.

Apakah terdapat hubungan antara inflasi dengan tingkat pengangguran? Pada tahun 1950-an, kurva Phillips (Phillips curve) menunjukan bahwa para pengambil keputusan bisa menimbulkan tradeoff inflasi yang tinggi karena pengangguran yang lebih rendah. Pengalaman terahir menunjukkan bahwa walaupun ekonomi yang mengalami inflasi bisa mengurangi pengangguran dalam jangka pendek, dalam jangka panjang pengangguran akan terjadi paling tidak setinggi sebelumnya dan juga kenaikan inflasi. Lihat juga cost-push inflation dan demand-pull inflation.

1) Cost-push inflation (inflasi desakan ongkos)
Yaitu, inflasi yang disebabkan karena peningkatan harga akibat naiknya biaya-biaya. Apabila permintaan terhdap bahan baku melebihi penawarannya, maka harga akan naik. Karena para pabrikan membayar lebih mahal atas bahan baku mereka menetapkan harga produk akhir yang lebih tinggi kepada pedagang dan pedagang menaikkan harga barang itu, yang kemudian akan ditanggung oleh para konsumen.
Asumsikan keseimbangan ekonomi mula-mula terjadi pada titik E1 dengan permintaan agregat AD dan penawaran agregat AS1. Misalkan buruh menuntut kenaikan upah. Akibat kurva AS bergeser ke kiri dari AS1 menjadi AS2. Tingkat harga naik dari P1 menjadi P2 dan output turun dari Ye menjadi Y1 dengan keseimbangan baru tercapai pada titik E2. Lihat juga cost-push inflation.

2) Demand-pull inflation (inflasi karena tarikan permintaan)
Yaitu, kenaikan harga-harga yang terjadi akibat kenaikan permintaan agregat (AD) yang lebih besar dari penawaran agregat (AS). Artinya, inflasi terjadi apabila pendapatan nasional lebih besar dari pendapatan potensial. Dalam bentuk grafis, inflasi karena tarikan permintaan ini bisa digambarkan sebagai berikut:
Asumsikan permintaan agregat bertambah, sehingga kurva AD bergeser ke kanan menjadi AD1 Akibatnya tingkat harga dan output naik di sepanjang kurva SRAS, masing-masing dari Po menjadi P1 dan dari Ye menjadi Y1. Dalam jangka panjang, pendapatan nasional akan kembali menuju tingkat keseimbangan yang menunjukan full employement (Ye). Akibatnya tingkat harga naik menjadi P1 dan keseimbangan baru tercapai pada titik E2. Lihat juga cost-push inflation.

C. Penyebab Inflasi dan Dampak Inflasi
1. Penyebab Inflasi
Seperti yang disebutkan pada pengertian inflasi di atas, inflasi tidak terjadi begitu saja, tapi disebabkan oleh berbagai faktor. Secara umum, penyebab inflasi adalah karena terjadinya kenaikan permintaan dan biaya produksi. Selengkapnya, berikut ini adalah beberapa penyebab inflasi:
a. Meningkatnya Permintaan (Demand Pull Inflation)
Inflasi yang terjadi disebabkan karena peningkatan permintaan untuk jenis barang/ jasa tertentu. Dalam hal ini, peningkata permintaan jenis barang/ jasa tersebut terjadi secara agregat (agregat demand).
Hal ini terjadi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
Meningkatnya belanja pemerintah
Meningkatnya permintaan barang untuk diekspor
Meningkatnya permintaan barang untuk swasta
b. Meningkatnya Biaya Produksi (Cost Pull Inflation)
Inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi. Adapun peningkatan biaya produksi disebabkan oleh kenaikan harga bahan-bahan baku, misalnya:Harga bahan bakar naik, Upah buruh naik.
c. Tingginya Peredaran Uang
Inflasi yang terjadi karena uang yang beredar di masyarakat lebih banyak dibanding yang dibutuhkan. Ketika jumlah barang tetap sedangkan uang yang beredar meningkat dua kali lipat, maka bisa terjadi kenaikan harga-harga hingga 100%.
Hal ini bisa terjadi ketika pemerintah menerapkan sistem anggaran defisit, dimana kekurangan anggaran tersebut diatasi dengan mencetak uang baru. Namun hal tersebut membuat jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin bertambah dan mengakibatkan inflasi.
2. Dampak Inflasi
Inflasi atau kenaikan harga yang tinggi dan terus menerus telah menimbulkan beberapa dampak buruh pada masyarakat, para penabung, kreditor atau debitor, produsen ataupun kegiatan perekonomian secara menyeluruh.
1) Dampak inflasi terhadap individu dan masyarakat menurut Prathama Rahardja dan Manurung misalnya:
a. Menurunnya Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menjadi berkurang atau malah semakin rendah, apabila bagi orang-orang yang berpedapatan tetap, kenaikan upah tidak secepat kenaikah harga-harga, maka inflasi ini akan menurunkan upah rill setiap individu yang berpendapatan tetap.
b. Memperburuk distribusi pendapatan
Bagi masyarakat yang berpendapatan tetap akan menghadapi kemerosotan rill dari pendapatannya dan pemilik kekayaan dalam bentuk uang akan mengalami penurunan juga. Akan tetapi, bagi pemilik kekayaan tetap seperti tanah atau bangunan dapat mempertahankan atau justru menambah nilai riil kekayaannya. Dengan demikiran inflasi akan menyebabkan pembagian pendapatan diantara golongan yang bependapatan tetap dengan para pemilik kekayaan tetap akan menjadi semakin merata.
2) Dampak lainnya dirasakan pula oleh para penabung, oleh kreditur atau debitur, dan oleh produsen.
a. Dampak inflasi bagi para penabung ini menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Tabungan memang menghasilkan bunga, tetapi jika tingkat inflasi diatas bunga, tetap saja nilai mata uang akan menurun. Bila orang sudah enggan menabung, akan sulit untuk berkembang, karena berkembangnya dunia usaha membutuhkan dana dari masyarakat yang disimpan di bank.
b. Dampak inflasi bagi debitur atau yang meminjamkan uang kepada bank, inflasi ini justru menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah di banding pada saat meminjam, tetapi sebaliknya bagi kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah dibandingkan pada saat peminjaman. Begitupun bagi produsen, inflasi bisa menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya. Namu, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya.
3) Inflasi mengganggu stabilitas ekonomi
Inflasi mengganggu stabilitas ekonomi dengan merusak rencana jangka panjang para pelaku ekonomi. inflasi jika tidak cepat ditangani, maka akan susah untuk dikendalikan, Inflasi cenderung akan bertambah cepat. Dampak inflasi bagi perekonomian nasional diantaranya:
a. Investasi berkurang;
b. Mendorong tingkat bunga;
c. Mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif;
d. Menimbulkan kegagalan pelaksanaan pembangunan;
e. Menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi dimasa yang akan datang;
f. Menyebabkan daya saing produk nasional berkurang;
g. Menimbulkan devisit neraca pembayaran;
h. Merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat; dan
i. Meningkatnya jumlah pengangguran.

D. Cara Mengatasi Inflasi
Untuk mengawal inflasi agar tetap nol persen secara terus menerus atau setidaknya untuk terus membawa tingkat inflasi agar tetap pada batas minimum inflasi, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan atau pembuat kebijakan maka pemerintah biasanya melakukan dua kebijakan berikut:
a. Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiscal secara singkat adalah kebijakan dalam bentuk mengurangi pengeluran pemerintah, langkah ini menibulkan efek yang cepat dalam mengurangi pengeluaran dalam perekonomian.
b. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter secara singkat merupakan kentuan yang dikeluarkan oleh otoritas moneter (Bank Sentral) untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. Ada beberapa contoh kebijakan moneter seperti operasi pasar terbuka, menurun kantingkat diskonto, menurunkan persyaratan cadangan dari bank-bank.

E. Indikator Inflasi
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Penentuan barang dan jasa dalam keranjang IHK dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota. Adapun indikator lain yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)
Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik https://bps.go.id.   
b. Indeks Harga Produsen (IHP)
Indikator ini mengukur perubahan rata-rata harga yang diterima produsen domestik untuk barang yang mereka hasilkan.
c. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB)
Menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa. Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
d. Indeks Harga Aset
Indeks ini mengukur pergerakan harga aset antara lain properti dan saham yang dapat dijadikan indikator adanya tekanan terhadap harga secara keseluruhan.
Contoh: berikutadalah data yang diolahdari website resmi Bank Indonesia (BI) di www.bi.go.id data dari tahun ke tahun (year on year) 2013 sampai 2017.

Dari data diatas dapat diperoleh bahwa pada tahun 2013 IHK mencapai 8,38 yang mengindikasikan bahwa tingkat inflasi cukup tinggi, pada tahun 2014 IHK menurun ke level 8,36 yang berarti inflasi sedikit menurun. Lalu pada tahun 2015 dan 2016 IHK mengalami penurunan yang sangat signifikan sehingga dalam dua tahun tersebut inflasi di Indonesia menurun, namun padatahun 2017 IHK kembali mengalami kenaikan ke level 3,61 memang tidak terlalu signifikan akan tetapi perubahan tersebut mengakibatkan sedikitnya kenaikan inflasi. Jika ditinjau secara keseluruhan  dari 2013-2017 IHK tersebut tidak begitu stabil sebab pada tahun 2014 ke 2015 mengalami penurunan yang begitu drastis. Hal tersebut dipengaruhi oleh sentiment transisi pemerintahan pada waktu itu.
KET. 2012 2013 2014 2015 2016
IDR     4.3 8.4 8.4      4.9      3.6
MYR 1.6 3         2.8 2.6     1.7
PHP 3.2 3.4 2.9       0.3      2
SGD 4.3      2         -0.1      -0.7 0
BTH 3.6 1.7 1.1     -0.9     0.7


Grafik diatas menujukkan laju inflasi di 5 negara yaitu nergara Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand. Dari data diatas grafik yang paling stabil adalah Malaysia. Hal tersebut menunjukkan stabilitas perekonomian di Malaysia cukup baik diantara 4 negara ASEAN lain. Singapura mencapai tingkat nol tingkat inflasinya pada tahun 2014 dan 2016. Akan tetapi Singapura dan Thailand mengalami deflasi pada tahun 2015. Meskipun pada tahun 2015 Singapura menunjukkan tingkat inflasi 0 akan tetapi tahun berikutnya terus menurun sehingga mengakibatkan deflasi. Sementara di Indonesia pada tahun 2012 sampai 2014 inflasi tergolong paling tinggi daripada 4 negara lain akan tetapi pada tahun 2015 dan 2016 Indonesia mengalami penurunan tingkat inflasi.
Dari data di atas, menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu perbaikan yang menyeluruh secara terus menerus, sebab Indonesia mempunyai rapot paling merah di antara 4 negara ASEAN lain. Maka Indonesia harusnya mampu menerapkan kebijakan fiscal maupun moneter secara tepat guna agar tingkat inflasi dapat menurun secara tepat sasaran.

A. Kesimpulan
Inflasi di artikan sebagai kenaikan harga umum secara terus menerus dari suatu perekonomian.
Terdapat berbagai macam jenis inflasi. Beberapa kelompok besar dari inflasi adalah: Policy induced, Cost-push inflation, Demand-pull inflation , Inertial inflation. Menurut Sukirno bahwa berdasarkan pada sumber atau penyebab kenaikan harga-harga yang berlaku, inflasi biasanya dibedakan kepada tiga bentuk, yaitu: Inflasi tarik permintaan, Inflasi desakan biaya, Inflasi diimpor.
Penyebab inflasi: Meningkatnya Permintaan (Demand Pull Inflation), Meningkatnya Biaya Produksi (Cost Pull Inflation) dan Tingginya Peredaran Uang. Dampak Inflasi Inflasi atau kenaikan harga yang tinggi dan terus menerus telah menimbulkan beberapa dampak buruh pada masyarakat, para penabung, kreditor atau debitor, produsen ataupun kegiatan perekonomian secara menyeluruh.
Untuk mengawal inflasi agar tetap nol persen secara terus menerus atau setidaknya untuk terus membawa tingkat inflasi agar tetap pada batas minimum inflasi, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan atau pembuat kebijakan maka pemerintah biasanya melakukan dua kebijakan yaitu kebijan fiscal atau kebijakan moneter.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK).
B. Saran
Kita sebagai mahasiswa harus turut serta dalam peran pemerintah mengenai stabilitas ekonomi, karena dengan kita mengenyam pendidikan seharusnya menjadi generasi yang paham akan kebutuhan negara yang membutuhkan mahasiswa yang sadar akan kesetabilan ekonomi.

Komentar