PENGEMBANGAN TAMAN WISATA GOA SUNYARAGI SEBAGAI DESTINASI WISATA TOP DI CIREBON (Antara Idea dan Realita)

Cirebon terkenal dengan julukan “Kota Wali” yang mana sejarahnya dulu salah satu Walisongo yang bernama Syekh Syarif Hidayatullah mentembangkan ajaran islam dengan macam-macam metodenya, sehingga kini Syekh Syarif Hidayatullah atau yang kerap disapa juga sebagai Sunan Gunung Djati ini menjadi terkenal dan namanya diabadikan sebagai nama dua Universitas Islam Negeri yang mana diantaranya adalah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati di Bandung. Beliau tidak hanya mengembangkan ajaran Agama Islam saja di Cirebon, akan tetapi beliau juga membangun sistem pemerintahan, budaya, dan lain sebagainya sehingga Curebin kini syarat akan banyak sejarah peninggalan kejayaan masa Sunan Gunung Djati dulu. Salah satu peninggalan tersebut diantaranya adalah makam beliau di Gunung Djati Kabupaten Cirebon, tiga keraton, dan masih banyak lagi termasuk Goa Sunyaragi yang kini banyak menjadi destinasi wisatawan lokal maupun mancanegara yang takjub dan hendak menelusuri jejak kejayaan Cirebon di masa lampau.

Menurut Dini (2013) Taman Wisata Goa Sunyaragi merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon. Taman Wisata Goa Sunyaragi dapat pula disebut Taman Air Goa Sunyaragi karena pada jaman dahulu kompleks goa tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati selain itu gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias goa tersebut. Goa Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton pakungwati yang sekarang bernama keraton kesepuhan. Sunyaragi berasal dari kata “Sunya” yang artinya Sepi dan “Ragi” yang artinya Raga, karena tujuan utama didirikannya goa tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan dan Keluarganya.

Masyarakat sekitar Goa Sunyaragi juga merasakan manfaat sangat besar dengan ditatapkannya Goa Sunyaragi sebagai cagar budaya yang mana keberadaannya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Masyarakat sekitar Goa Sunyaragi berpenghasilan rata-rata Rp. 200.000 per hari sampai dengan Rp. 300.000 perhari. Penghasilan tersebut didapat dari penyediaan jasa pemandu wisata, perdagangan makanan dan minuman, dan lainnya. Hal ini tentu menjadikan keberadaan Goa Sunyaragi sebagai berkah bagi pada khususnya dan pemerintah pada umumnya karena adanya wisatawan juga akan meningkatkan pendapatan aslu daerah yang berguna juga sebagai APBD dan pada akhirnya APBD tersebut dudistribusilan kembali pada masyarakat Cirebon pada umumnya melalui pembangunan sara dan prasarana daerah yang tentunya akan dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat Cirebon.

Melihat potensi yang seperti ini, tentu perlu juga dilakukan penangan serius tentang pembangunan dan pengembangan Goa Sunyaragi sebagai destinasi pariwisata. Setidaknya diperlukan beberapa hal yang menjadi faktor pendukung pngembangan tersebut diantaranya: Pembangunan sumberdaya manusia, pembangunan sarana yang amat dibutuhkan oleh wisatawan, dan infrastruktur yang mana dapat mempercepat akses wisatawan menuju Goa Sunyaragi.
Pembangunan suberdaya manusia di sini ialah seperti yang kita ketahui, bahwa pemandu wisata di Goa Sunyaragi belum banyak yang mengetahui sejarah dan perkembangan Goa Sunyaragi dari masa ke masa. Tentu perlu peran pemerintah daerah dalam hal ini untuk memberikan pembekalan pada pemandu wisata di Goa Sunyaragi. Bahkan bila perlu pemandu wista tersebut diberikan seritfikasi agar dapat menjadi pemandu wisata di Goa Sunyaragi.

Pembangunan sarana juga diperlukan di Goa Sunyaragi ini, mengingat belum adanya toilet yang dapat menunjang penuh kebutuhan wisatawan. Memang ada toilet di Goa Sunyaragi, akan tetapi kualitas dari toilet itu secara kebersihan dan kapasitas jika ramai pengunjung belum memadai.

Kemudian yang terakhir adalah infrastruktur yang belum memadai. Seperti diketahui, daerah sekitar Goa Sunyaragi adalah daerah yang rawan macet yang menjadikan akses menuju tempat wisata ini menjadi terhambat. Bahkan ada sebuah anekdot yang menyatakan bahwa wisatawan di Cirebon betah sekali di hotel tapi di tempat wisatanya sepi. Alasannya beragam mulai dari akses dari lokasi wisata yang sering tersendat juga banyak hal lainnya yang menjadikan wisatawan Cirebon betah di hotel.

Dari berbagai faktor tersebut tentunya diperlukan penanganan yang serius mengingat Goa Sunyaragi sebagai destinasi wisata yang potensial bagi peningkatan taraf hidup masyarakat. Hal ini perlu kerjasama dari seluruh lapisan baik pemerintah pusat maupun daerah, juga masyarakat sekitar Goa Sunyaragi demi terciptanya tempat wisata yang mampu menarik minat wisatawan lokal maupun internasional.

Pada akhirnya penulis berharap, semoga Goa Sunyaragi dapat dikembangkan dengan serius serta para stakeholdernya dapat bersinergi dengan sungguh-sungguh dalam membangun Goa Sunyaragi.

Komentar