Hari-hari belakangan ini banyak sekali beredar berita yang membawa pada ketidakpastian baik pada bidang politik, hukum, ekonomi, sosial-budaya serta bidang lainnya yang amat strategis. Hal tersebut didorong dengan cepatnya akses informasi yang mana hanya dengan berdiam diri saja manusia dapat mendapatkan informasi apapun tanpa harus mengunjungi penjual koran, majalah atau media lainnya. Cukup satu kali klik sesuai dengan pilihan yang hendak dicari atau diminati, manusia mendapatkan apa yang diinginkannya melalui gadgetnya. Hal ini memiliki dampak yang positif sekaligus negatif juga, karena di tangan orang yang berperilaku baik maka akan menjadi sebuah pencerahan bagi yang lainnya. Namun, jika digunakan oleh orang yang kurang baik, maka akan banyak malapetaka yang datang. Seringkali kita terperdaya oleh hal semacam ini, kita hanya percaya dan manut saja tanpa mempertanyakan dulu berita yang ada tersebut terlebih dahulu. Atau bisa dibilang kita sekarang kurang kritis dalam menanggapi berita yang ada.
Sebagai insan akademis, tentunya mahasiswa dituntut untuk menjadi kritis dalam menghadapi berbagai berita yang beredar. Yang mana artinya mahasiswa harus mengecek secara betul-betul sumber berita tersebut valid atau tidaknya berdasarkan metode keilmuan yang dipelajarinya selama di perguruan tinggi. Akan tetapi akhir-akhir ini penulis merasa begitu heran, karena banyak mahasiswa yang daya kritisnya kurang begitu menonjol atau dengan kata lain manut-manut saja apa kata dosen, orang lain, bahkan keluarganya tanpa dicek apakah yang dikatakan itu masuk akal secara logika atau tidak. Beasiswa sudah dikucurkan banyak oleh lembaga filantropi, pemerintah juga banyak orang yang melakukan itu dengan tujuan agar kehidupan bangsa menjadi cerdas dan pada akhirnya akan tercapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia secara luas. Akan tetapi jika mahasiswa yang sejatinya sebagai agen perubahan, sosial kontrol dan penegak moral daya kritisnya kurang maka apa yang dapat diharapkan dari itu? Tentu hal ini hanya akan membuang-buang biaya saja.
Menjadi kritis diperlukan setidaknya beberapa hal sebagai syarat. Diantaranya:
1. Cerdas
Orang yang cerdas tentunya begitu mendengar apa saja yang tidak sesuai dengan nalarnya maka akan langsung bertanya dan penasar pada landasan berpikir orang yang memberikan informasi. Menjadi cerdas memang perlu perjuangan, diantaranya adalah dengan membaca, mendengar serta mengamalkan apa saja yang mana hal itu dapat bermanfaat guna mendapat sebuah ilmu baru. Sebagai contoh, orang yang cerdas akan terlebih dahulu bagaimana caranya mendapatkan ilmu bukan? Bukannya malah langsung ingin mengetahui ilmu yang akan ia pelajari secara langsung. Atau dalam bahasa yang lebih mudah bahwa orang yang cerdas itu laksana orang yang belajar bagaimana membuat pancing, menentukan tempat yang pas untuk memancing, serta menganalisa cuaca yang pas untuk memancing.
2. Penasaran
Orang yang kritis akan selalu merasa penasaran pada hal baru yang ada di depan hidungnya. Dia selalu hendak mencari tahu apa yang sedang terjadi tersebut secara komprehensif.
3. Pantang menyerah
Tentunya, untuk mencapai suatu kesimpulan dari sekian banyak realita yang terjadi orang yang kritis tidak akan pernah menyerah untuk mencari data yang valid guna mengambil kesimpulan. Maka dari itu orang yang kritis tak pernah menyerah, dan rasanya jika tidak segera ia menemukan kesimpulannya dia akan terus menerus merasa tidak tenang.
Melihat hal di atas tadi, maka alangkah baiknya kita renungkan dengan akal budi kita juga perhatikan apa yang telah dilakukan selama itu sebagai pembelajaran. Manusia sejatinya akan terus menerus belajar dalam hidupnya meskipun dia tidak belajar di bangku sekolah. Nyatanya, pelajaran itu bukan hanya pada teori, tapi praktik pun selalu memiliki pelajarannya. Teruslah belajar, teruslah kritis jangan pernah putus asa dan jadilah agen perubahan sebagai langkah awal guna menempuh Indonesia maju.

Komentar
Posting Komentar
Mari berkomentar dan bangun blog ini cheers