Menjadi mahasiswa itu tentunya memiliki beban secara moral, keilmuan, serta beban secara material. Dalam hal itu tentunya seorang mahasiswa haruslah cerdas dalam membagi waktu dan membaca kondisi di sekelilingnya. Jika hendak dibentuk pertanyaan maka seorang mahasiswa harus mampu menjawab pertanyaan who am I? Artinya dia harus pandai memposisikan perannya, tingkah dan perilakunya dalam ruang lingkup yang sedang dijalaninya. Semisal seorang mahasiswa yang menjadi organisator harusnya dapat memposisikan diri sebagai organisator. Yang mana dia tentunya mendedikasikan daya dan upayanya agar organisasi yang menaunginya menjadi organisasi yang mampu mengambil peran di setiap bidang dengan catatan memuaskan.
Hanya saja, akhir-akhir ini entah pandanganku saja atau apapun itu. Banyak teman seorganisasiku hanya melaksanakan tindakannya di organisasi seperti mode pesawat. Senyap tanpa koneksi bahkan tanpa kontribusi di organisasinya. Dia hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya saja. Itupun alakadarnya yang tentu tidak secara maksimal ia lakukan. Merasa gusar akan hal itu, saya merasa jengkel sehingga saya menyebut orang-orang ini sebagai patung. Iyah tentu sangatlah egois apa yang saya katakan tadi. Akan tetapi saya memiliki argumentasi untuk itu.
Jika ditarik ke belakang, orang yang memasuki organisasi itu tentu memiliki motivasi idealnya masing-masing. Dia hendak melaksanakan ini dan itu semaksimal mungkin. Belum lagi ketika kita sempitkan lingkupnya hanya di ranah kampus, tentunya kita akan mendapatkan feel tersendiri untuk mengkritisi orang yang hanya jadi patung ini. Iyah, dia dipilih dan dipercaya oleh rekan-rekan lainnya yang tidak menjadi pengurus agar mamou membawa nama jurusannya, fakultasnya, bahkan kampusnya agar menjadi kawah candradimuka. Itu harapan yang ada, yang dipanggul oleh setiap pengurus organisasi intra kampus. Dia punya tanggungjawab besar. Tentunya, jika orang yang dipercaya tersebut tidak melakukan apa-apa alias hanya diam menunggu perintah, maka pastilah akan kecewa rekan-rekannya. Adalah suatu dosa besar bagi setiap pengurus yang tak pernah melaksanakan fungsinya dengan serius dan sungguh-sungguh.
Memang seorang mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk mengikuti kuliah, belajar dan lain sebagainya. Namun, ketika tanggungjawab tak pernah ia laksanakan dan ia tepati, maka apa kata yang pas untuk memaki tindakan itu? Sungguh mengherankan bagi saya pribadi. Orang macam ini tidak hanya menciderai kepercayaan mahasiswa lain. Tapi dia juga menyianyiakan orang yang lebih baik darinya yang mana ia tak lolos seleksi menjadi pengurus. Betapa suramnya keadaan seperti ini. Mereka mengelak jika dikritisi membantah apa yang sebetulnya nampak di mata mereka.
Macam orang tak tahu dirilah orang ini. Dia lebih baik tak usah masuk organisasi lagi. Memang belajar adalah tujuan. Akan tetapi orang belajar juga harus serius mengikuti dan menjalani mekanisme organisasinya. Jika tidak, maka apa bedanya dengan membolos pelajaran?
Pesanku kepada siapapun yang membaca ini, jadilah orang yang mampu menepati tanggungjawab, orang yang bisa dipercaya, serta orang yang mewakili suara temannya di saat rapat dengan atasan. Jadilah manusia seutuhnya. Jangan pernah merasa benar. Sebab jika sudah merasa benar artinya kamu sudah tidak benar. Salaaam!!!
Komentar
Posting Komentar
Mari berkomentar dan bangun blog ini cheers