Ramadhan Tahun Ini

Ramadan bulan yang penuh berkah, bulan dimana rahmat Allah dilimpahkan secara berhambur-hamburan. Dimana pintu surga dibuka selebar mungkin, pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Bulan dimana orang-orang berlomba-lomba melaksanakan kebaikan. Dalam hal ini penulis sebagai mahasiswa juga merasakan betul nikmatnya bertemu dengan bulan yang luar biasa ini.

Namun, ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Ramadan tahun ini tengah dilanda wabah COVID-19. Wabah biologis yang mengharuskan semua orang di rumah saja. Semua orang berdiam diri di rumahnya masing-masing baik dalam beribadah maupun dalam bermuamalah dilaksanakan dari rumah.

Penulis pun merasakan dampaknya yang memaksa penulis harus kuliah dari rumah. Nugas di rumah, belajar dari rumah, hingga KKN juga nampaknya akan dilaksanakan dari rumah. Sebuah realita yang pahit yang harus ditelan demi kesehatan dan keamanan bersama. Seiring dengan diberlakukannya PSBB, penulis berharap agar wabah ini segera berakhir dan segera manusia kembali bermuamalah secara normal. Beribadah sebagaimana mestinya dan seharusnya seperti biasanya.

Dari beberapa rangkaian kisah yang penulis alami, di dunia perkampusan penulis tidak dapat berbuat banyak selain melaksankan kewajiban akademis dari rumah. Kewajiban organisatoris dari rumah juga. Seperti diketahui, belakangan sedang ramai diperbincangkan terkait pemotongan UKT semester depan yang dibatalkan dengan alasan kementerian agama anggarannya dikurangi untuk penanganan wabah. Penulis merasa heran, sebab penanganan wabah ini tentunya harus menjadi perhatian bersama dan senantiasa menjadi prioritas dari semua kementerian. Pertanyaannya adalah bukankah pemotongan UKT tahun depan juga merupakan akibat dari adanya wabah? Orang tua penulis secara ekonomis merasakan betul dampaknya. Dimana penghasilan orang tua penulis berkurang secara drastis.

Memang nominal yang dibayarakan penulis kecil jumlahnya. Hanya Rp. 400.000 saja. Namun penulis juga tidak apatis terhadap  nasib rekan-rekan yang lain. Banyak diantara mereka yang membayar dalam jumlah yang besar, semetara orang tua mereka penghasilannya berkurang betul. Tentunya menjadi beban yang harus ditanggung oleh rekan-rekan penulis. Namun penulis mengharapkan kemurahan hati pejabat kementerian agama yang dengan motto yaitu Ikhlas Beramal. Harapannya pejabat dapat memikirkan nasib orang tua rekan penulis yang bekerja di sektor non formal. Wabah ini, dengan segala penanganannya telah membuat pendapatan orang tua mereka drop.  Kementerian agama juga harusnya telah memikirkan dengan matang terkait hal itu. Bukankah orang yang menjabat di kementerian agama itu memiliki empati yang tinggi, karena agama mengajarkan agar berbuat adik dan tepat sasaran? Ditambah lagi mottonya yaitu Ikhlas Beramal?

Harusnya kementerian agama tidak segan untuk memberikan potongan tersebut dengan dalih apapun. Sebab memang banyak mahasiswa rekan penulis juga terdampak secara ekonomi dan terbilang berat jika harus membayar UKT normal. Bukankah negara juga memiliki kebijaksanaan agar setidaknya biarlah PNBP dari pembayaran UKT tahun ini hanya sedikit, tapi beberapa tahun kemudian bisa untuk dinormalkan kembali. Negara harusnya hadir dalam masalah ini. Negara diberikan kewenangan untuk melakukan intervensi secara legal maupun instrumen lainnya yang dapat meringankan beban segenap rakyatnya. Bukankah tujuan dari negara dibentuk dalam pembukaan UUD 45 itu adalah untuk memahukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksankan ketertiban dunia?

Harapan saya pribadi sederhana sekali. Negara harusnya bijaksana dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil tentu akan selalu mengandung risiko. Namun setidaknya ambillah keputusan yang berpihak pada rakyat secara kolektif. Bukan segelintir orang, golongan, atau bahkan kelompok yang dekat dengan penguasa. Bukankah negara ada karena adanya rakyat? Bukankah demikian adanya? Semoga pejabat kita memikirkan dan mengambil keputusan terbaik yang berpihak pada rakyat. Terkhusus berpihak pada mahasiswa yang orang tuanya terdampak secara ekonomi akibat wabah. Aamiin. Salam...

Komentar