Di pesarehan atau tempat makam para sunan, tempat 9 wali, selalu ada sumur. Bahkan di kudus ada sumur pitu. 7 mata air sumur. Lalu dalam dongeng cerita folklore dari mulut kemulut, di katakan bahwa para sunan sewaktu meng-islam-kan nusantara itu tidak dengan berperang atau tumpah darah. Namun dengan kekuatan ekonomi, berdagang dan memiliki EMAS.
Tersebut kisah yang di catat dalam suluk linglung pangeran Wijil, bahwa para sunan itu “menyendok tanah” di dekatnya yang kemudian jadi sumur, sebenarnya para sunan itu mengambil tanah tersebut lalu sebagai bahan untuk membuat “harta”. Apa yang mereka lalukan setelah itu? di beri air di rendam di letakan dalam kendi.
Selang beberapa harinya, cairan tadi di pisahkan dan “tanah” tersebut di bakar menjadi solid. Dan benda yang di bakar tersebut merupakan inggot atau dore, dengan kadar emas 14-20 karat.
Yang dalam cerita turun temurun, ternyata cairan tadi adalah bateria atau kalau di bahasa modern dalam ilmu patologi, ini adalah bio engineering. Para sunan, memisahkan unsur logam tadi menggunakan bakteria, para sunan melaksanakan bio engineering jauh sebelum dunia mengenal microba, virus, bakteri. Dimana mereka menyebutnya dengan istilah LELEMBUT. Saking halus dan kecilnya.
Itu bukan mahluk halus, jin setan segalanya, itu adalah mahluk kecil supernano yang bekerja menurut hukum alam. Inilah yang menjadi kunci sukses bermain di bidang metalurgi yang harus di cari oleh generasi anak bangsa nusantara, kekayaan ilmu teknologi logam.
Osmium misalnya, benda logam yang berat jenisnya lebih dari besi, namun selalu “oily” licin. Kalau osmium di produksi dibuat untuk benda ROTATING berputar seperti turbine, jet engine, baling baling propeler kapal laut. Maka pelumasnya olinya hanya perlu 10% nya saja.
Mesin menjadi lebih baik performanya, dengan perawatan yang rendah, dunia aviasi dan maritm bisa maju 3 kali lipat dari sekarang, dan osmium itu banyak di bumi nusantara.
Paladium, yang lebih kempling mengkilat, lebih ringan dari platinum dan lebih kuat, akan membuat dunia kesehatan laser, heavy duty permesinan, transporasi, drone menjadi lebih murah.
Rodhium bisa minus resistance pengantarnya sehingga alat komunikasi bisa lompat menjadi 6G, 7G, 10 G bahkan. lebih cepat lagi data tertranfer.
Thorium membuat listrik tanaga nuklir tidak lagi berbasis uranium yang berbahaya. Membuat biaya listrik berbasis minyak bumi, batubara menjadi kemahalan. Karena dnegan torium per KWH menjadi hanya 0.3 dolar, jauh di bawah harga batu bara yang 0. 8 dolar, di bawah gas yang 1,1 dolar, untuk energi listrik.
Semua itu adalah budaya metal. Mulai dari metal biasa, metal tanah jarang rare earth hingga precius group metal, semuanya ada di tanah air tercinta ini.
Sebelum melangkah jauh, kita merenung sejenak menengok apa yang para sunan sudah lakukan untuk anak cucunya, untuk bangsa indonesia. Bukan hanya nikmat agama islam, namun budaya luhur budaya logam dia wariskan oleh mereka.
Untuk menjadi yang terdepan. Warisan beliau-beliau tersebut harus kita pertahankan. Inilah strategi SWF souverign wealth fund – berbasis NATURAL RESOURSES CAPITAL yang selalu di dengung kan oleh si bossman yang sok keminter ini. Mengunakan kekuatan “kedaulatan” souverign – natural resourses untuk menjadi alat tawar, kepada negara lain. Bukan menjadi pengemis minta minta pinjaman.
Sejarah sudah mengingatkan, wahai pejabat rajin rajin lah baca sejarah dan menengok kekuatan bangsa sendiri. Semua tersedia. Semuanya tinggal di pakai. Masih ngak ngerti juga SWF nya ilmu para sunan ini ya? Ya ngobrol dong kita #peace

Mantappp patenn
BalasHapusIstimewa
Hapus